0


Wood pellets adalah kayu yang dihaluskan kasar kemudian dipadatkan, sampai mampu menghasilkan energi kalor yang setara dengan batubara. Pelet kayu serupa dengan briket kayu, yang membedakan adalah bahan perekat, kerapatan dan bentuknya. Saat ini, sudah begitu banyak riset yang jalani agar wood pellets dapat membuahkan kandungan kalor yang diharapkan.

Dan hasilnya, setelah didapatkan sistem yang cukup, akhirnya industri wood pellets menjadi sebuah solusi dalam perluasan kebutuhan energi di masa datang. Diketahui, banyak kegunaan dan manfaat dengan adanya wood pellets ini. Selain dikarenakan berbahan biomassa kayu, yang diyakini lebih bersahabat dengan, wood pellets juga mempunyai nilai ekonomi yang sangat baik.

Akan tetapi, bilamana tidak ditemukan dan disadari sebuah metode managemen yang berpihak pada rakyat, pada gilirannya wood pellets dapat menjadi suatu bencana baru bagi rakyat. Tipe kayu yang dapat mengeluarkan kalor tinggi umumnya adalah tipe-tipe kayu yang tumbuh di bekas-bekas lahan perladangan masyarakat. Kebanyakan adalah kayu yang berkembang sebagai tumbuhan di hutan sekunder, yang sedang menjalani suksesinya menuju perbaikan hutan.
Tidak cukup banyak riset yang dilakukan untuk membudidayakan jenis-jenis pepohonan tersebut. Kurang bervalue ekonomi, menjadi sebuah alasan mengapa sampai saat ini masih kurang dilakukan. Tungku Wood Pellets - Foto H. Raab Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan produksi wood pellets, masih membutuhkan sedikit waktu, atau pilihannya menjadikan kawasan hutan utama sebagai wilayah terbuka, yang direncanakan dapat tumbuh pepohonan pioner.

Sebuah sumber energi yang diinginkan bersahabat dengan lingkungan, harus bersaing dengan kepentingan ekologis itu. Pun ketika terus banyak tipe pepohonan tersebut ditebang, maka masyarakat akan semakin sulit untuk mendapatkan kayu-kayu bakar untuk menghangatkan tungku dapurnya. Kemudian akibatnya sebuah pertarungan di tungku dapur, yang tentunya tidak akan mampu dimenangkan oleh masyarakat.

Tidak perlu untuk menggantikannya dengan bahan bakar LPG ataupun dengan bahan bakar fosil lainnya. Masyarakat di desa sudah cukup tahu kebutuhan akan energinya, dan mampu memenuhkan itu. Andai saja tidak ada gangguan dari pertambangan, perkebunan dan hutan tanaman skala besar.

Dikirim pada 29 September 2016 di Uncategories
Profile

“ Haji/Hajjah sariva ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Categories
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.488 kali


connect with ABATASA